Wednesday, June 21, 2006

Geological history of Merapi Volcano

Merapi is the youngest in a group of volcanoes in southern Java. It is situated at a subduction zone, where the Indo-Australian Plate is sliding beneath the Eurasian Plate. It is one of at least 129 active volcanoes in Indonesia, part of the Pacific Ring of Fire - a section of fault lines stretching from the Western Hemisphere through Japan and South East Asia.[1] Stratigraphic analysis reveals that eruptions in the Merapi area began about 400,000 years ago, and from then until about 10,000 years ago, eruptions were typically effusive, and the outflowing lava emitted was basaltic. Since then, eruptions have become more explosive, with viscous andesitic lavas often generating lava domes. Dome collapse has often generated pyroclastic flows, and larger explosions, which have resulted in eruption columns, have also generated pyroclastic flows through column collapse.



Typically, small eruptions occur every two to three years, and larger ones every 10-15 years or so. Notable eruptions, often causing many deaths, have occurred in 1006, 1786, 1822, 1872 (the most violent eruption in recent history) and 1930—when thirteen villages were destroyed and 1400 people killed by pyroclastic flows.

A very large eruption in 1006 covered all of central Java with ash. The volcanic devastation is believed to have led to the collapse of the Hindu Kingdom of Mataram, and the ensuing power vacuum allowed Muslims to become the rulers of Java. Merapi continues to hold particular significance for the Javanese: it is one of four places where officials from the royal palaces of Java's Yogyakarta and Solo make annual offerings to placate the ancient Javanese spirits

Indonesia Sebagai Negara Deforestasi Tertinggi di Dunia

Indonesia dan Filipina merupakan negara yang memiliki laju deforestasi (kehilangan hutan) tertinggi di dunia.

Selama periode 1985-1997 terjadi deforestasi sebesar 1,6 juta hektare per tahun, dan meningkat menjadi 2,1 juta hektare per tahun pada periode 1997-2001.

Kerusakan hutan pada gilirannya mengancam keanekaragaman hayati hutan tropis Indonesia yang memiliki nilai guna untuk generasi sekarang dan akan datang di Indonesia maupun secara global.

Masalah besar selanjutnya yang dihadapi Indonesia adalah semakin memburuknya kualitas udara dan air sebagai dampak dari tingginya tingkat polusi yang dari bersumber dari rumah tangga, industri dan transportasi.

Kota-kota besar di Indonesia sudah mengalami penurunan kualitas udara sangat drastis. Jakarta sekarang merupakan kota ketiga dengan tingkat polusi tertinggi di dunia setelah Mexico City dan Bangkok.



Selain polusi udara, aksesibilitas dan kualitas air juga bertambah buruk. Air bersih menjadi barang langkah, berkurangnya akses air bersih menimbulkan masalah-masalah ekologis, estetis, dan kesehatan.

Pentingnya peran pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan, sehingga pembangunan tetap berkelanjutan.

After Earthquake in Jogja

Indonesia semakin beresiko tinggi akan gempa khususnya pulau-pulau
yang dibentuk oleh gunung-gunung berapi. Aktifitas gunung berapi baik
yg ada disumatera dan jawa makin meningkat dan ini mengakibatkan
Kota-kota yang menghadap Samudera Hindia adalah kota-kota di Indonesia
yang rawan akan terjadinya gempa.


Ketika energi itu dilepaskan dari Mentawai (yg menyebabkan gempa dan
tsunami Aceh), perjalanan energi dalam tiap titik dan waktu dalam bumi
(gelombang seismic) tersebut belum lah berhenti sampai disini (yg
menyebabkan gempa Yogya), Seperti kita ketahui bahwa panjang
trench membentang luas sepanjang pulau sumatera,jawa sampai ujung
gugusan pulau-pulau timur dan adanya lempeng-lempeng india dan
australia yang aktip bergerak 73 mm pertahun dibawahnya.
Resiko tinggi gempa di Indonesia ini mulai terlihat aktip dari tahun
2004 (7 gempa), tahun 2005 (10 gempa),tahun 2006 ( masih 4 gempa.. )

Nias01



Data jumlah gempa diambil dari USGS EarthQuake Program.
Dilihat dari tren nya untuk tahun 2006 diperkirakan angka tersebut
akan bertambah.Angka diambil berdasarkan dalam gempa yg memiliki
magnitude skala 6 keatas.(merusak)

Pencatatan perjalanan energi ini dengan memasang banyak receiver dan
transmiter untuk alat seismogram memang membantu untuk mengetahui
besarannya atifitas perjalanannya secara vertikal dan horizontal (P
Wave dan S Wave), tapi tidak cukup ekeftip jika hanya mencatat dan
memonitor saja, diperlukan technology lain yang dapat memprediksi
kemungkinan terjadinya gempa yang lebih handal.Mungkin kita harus
lebih pandai lagi membaca data-data yg ada.

Untuk Gempa Yogya, apakah aktivitas magma dari gunung Merapi yang
memicu terjadinya gempa tsb? kemungkinan ini juga bisa menjadi
penyebabnya,walaupun secara umum tidak pernah masuk
dalam perkiraan. Namun karena besaran ruang dan waktu nya tidak
terlalu jauh serta pada umumnya goncangan gempa dan aktivitas vulkanik
menunjukan adanya suatu proses aktip yang sedang berlangsung secara
tektonik dalam merespon terhadap pergerakan lempeng-lempeng besar
bisa jadi ini ada asosiasinya. ada miss-link??
Mungkin masih perlu penelitian lanjut lagi untuk hubungan gempa dan
aktivitas gunung berapi.(bisa dijadikan tesis??)

Jadi diharapkan daerah-daerah yg sejajar dengan trench jawa-sumatera
tersebut tetaplah waspada.

Tentunya rumah yang dibangun harus anti
gempa minimal jangan sampai tertimpa dan terhimpit benda keras yg
berasal dari rumah. Dan sosialisasi kita hidup didaerah gempa
harus terus disiarkan baik di dunia pendidikan atau masyarakat.

Pertanyaan, Kapankah perjalanan energi itu stabil??
Sampai sekarang gempa-gempa kecil susulan tersebut masih terjadi
disepanjang daerah tersebut dan kemungkinan besar ada lagi gempa
susulan yang besar yg sedang menunggu waktu dan tempat dari perjalanan
energi tersebut agar sempurna untuk dilepaskan. Dan memang indonesia
terkenal daerah yg paling aktip tektoniknya.
So perjalanan energi ini masih terus berlangsung dan target tujuannya
tidak diketahui kecuali kita mempunyai teknology tentang itu.

Kemudian yang perlu diperhatikan juga adalah pulau yang dibangun
dari 3 arah sodokan lempeng yg berbeda yaitu Pulau Sulawesi dan
Maluku, semoga saja sampai hari ini rambatan energi sebelumnnya tidak
mengganggu kestabilan salah-satu dari lempeng-lempeng ataupun
patahan-patahan yang ada didaerah tersebut.

Quakemapbw


Untuk pulau yg menghadap Samudera Cina selatan,samudera Indonesia dan
Kalimantan mungkinkah aman dari Gempa? jawabnya tidak. Jauh dibawah
sana kita masih belum tau rupa dan arah pergerakan lempeng-lempeng
besar yang ada, apakah memiliki ruang untuk meneruskan perjalan energi
yg sekarang ini ada/tidak nantinya?

Kita harus sadar bahwa gempa akan terus menemani berita dikehidupan
sehari-hari manusia yang bermukim di nusantara. Jadi
sepertinya kita harus mencari dan memiliki solusi teknologi gempa
untuk Indonesia dengan membuat dan memiliki aplikasi ruang 3 Demensi
untuk membaca data yang ada hingga menggambarkan secara jelas bentuk
dan nilai dari hasil data tersebut, nantinya bisa berupa visualiasi
dari trench, patahan, lempengan, struktural maupun stratigraphi,
vulkanik dan tektonik dll yg ada di Indonesia dan dengan
memasukan/memberikan parameter data utama yang ada yaitu Energi, dan
juga unsur temperatur, vektor gaya-gaya yang ada baik berupa
tekanan,regangan dan tegangan dll umumnya ini dikenal dengan
Visualisasi data Geo-Fisika, dengan tetap memasukkan unsur perubahan
Waktu (hingga nantinya menjadi aplikasi 4 demensi).Agar kita bisa
memprediksi dengan tepat dimana ruang dan waktu terjadinya perjalanan
energi itu dilepaskan dengan sempurna, hingga bisa ditahui daerah mana
yg nantinnya beresiko tinggi terjadi gempa yang merusak atau tidak
merusak.


_41695098_java_search



Sekedar penutup...

Bumi makin aktip, Bumi makin reaktip
dimanakah tempat yang aman? selain hati yg tenang dan suci

Gempa..., apakah itu murni Bumi yg murka?
ataukah manusia yg tidak bisa membaca tanda-tanda Nya?

Tiada guna tangis dan pilu,dan janganlah duka itu dipendam,
Lepaskanlah ia pergi dengan tenang, Bangun kembali diri dengan berjiwa
besar.

Salam turut berduka..

Wednesday, March 08, 2006

Selamat Datang

Selamat datang di blog hidayat-ardiansyah

Membahas semua tentang Geoscience baik secara perspektif Geologi maupun Geofisika.

Berita tentang kejadian-kejadian alam disekitar kita.